Sabtu, 30 Mei 2015

Fenomena Depresi dan Hubungan antara Kesehatan Mental dengan Kecerdasan Emosi

FENOMENA DEPRESI

Hidup memberikan banyak pembelajaran dan juga pengalaman bagi manusia. Di dalam kehidupan tidak hanya ada kesenangan, namun ada juga masalah-masalah yang harus manusia hadapi untuk keberlangsungan hidupnya. Masalah tersebut yang terkadang dapat menimbulkan depresi pada beberapa orang.

Lalu apakah arti “DEPRESI” itu sendiri?...


Depresi adalah suatu keadaan emosi yang tidak menyenangkan dan dangkal (low mood) sebagai akibat dari pengaruh peristiwa yang tidak diharapkan, dimana manifestasi gejalanya dapat bersifat ringan hingga pada tingkat yang berat (Rosenbaum, 2000).

Depresi juga didefinisikan sebagai suatu status emosional seseorang yang ditandai dengan kesedihan yang sangat, perasaan bersalah, menarik diri dari lingkungan, gangguan tidur, anoreksia, kehilangan gairah seksual, kehilangan ketertarikan pada aktivitas-aktivitas yang biasanya menyenangkan. (Davison & Neale, 1994).

Para ahli lain melihat depresi sebagai suatu keadaan psikologis cara individu bereaksi terhadap frustrasi yang dialaminya (Reideger, Capaldi, 1984). Depresi bukanlah didasarkan pada proses patologi tunggal, tapi memiliki penyebab yang multiple.

Faktor-faktor penyebab depresi dapat dibagi menurut asalnya sebagai berikut (Pennel & Creed, 1987)
·         Bersumber dari fisik
·         Bersumber dari psikis
·         Bersumber dari sosial

Menurut Diagnostic and Statistical Manual IV - Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000), seseorang menderita gangguan depresi jika: Lima (atau lebih) gejala di bawah telah ada selama periode dua minggu dan merupakan perubahan dari keadaan biasa seseorang; sekurangnya salah satu gejala harus (1) emosi depresi atau (2) kehilangan minat atau kemampuan menikmati sesuatu.
  1. Keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari, yang ditandai oleh laporan subjektif (misal: rasa sedih atau hampa) atau pengamatan orang lain (misal: terlihat seperti ingin menangis).
  2. Kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau hampir semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain)
  3. Hilangnya berat badan yang signifikan saat tidak melakukan diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan (misal: perubahan berat badan lebih dari 5% berat badan sebelumnya dalam satu bulan)
  4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
  5. Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, bukan hanya perasaan subjektif akan kegelisahan atau merasa lambat)
  6. Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan hampir setiap hari
  7. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar(bisa merupakan delusi), dan mengganggap bahwa sumber dari setiap masalah adalah dirinya
  8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau sulit membuat keputusan, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain)
  9. Berulang-kali muncul pikiran akan kematian (bukan hanya takut mati), berulang-kali muncul pikiran untuk bunuh diri tanpa rencana yang jelas, atau usaha bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk mengakhiri nyawa sendiri.
Fenomena Depresi


Tentunya, depresi tidak terbatas pada usia, jenis kelamin, ras ataupun agama. Semua orang memiliki kemungkinan untuk mengalami depresi.



Bagaimana depresi pada kalangan remaja?...


Penelitian yang dilakukan oleh Radloffdan Rutter pada remaja-remaja di antara ras-ras yang berbeda (dalam Marcotte,2002) menemukan bahwa simtomdepresi meningkat mulai dari masa kanak-kanak ke masa remaja, dan tanda meningkatnya depresi muncul antarausia 13 – 15 tahun, mencapai puncaknyasekitar usia 17 – 18 tahun.

Studi Marcotte (2002) terhadap populasi di Canada dan Amerika Serikat menemukan bahwa ada sekitar 20 – 35% remaja laki-laki mengalami mood depresi dan sekitar 25 – 40% terjadi pada perempuan. Sepanjang hidupnya laki-laki  memiliki resiko antara 8 -12% terkena depresi unipolar, dan sekitar 25% perempuan Amerika akan mengalami depresi klinis selama kehidupannya (McGrath, et al.; dalam Gladstone danKoenig,2002).

Kebanyakan data mengindikasikan tingginya prevalensi yang tidak seimbang ini dimulai saat remaja, yaitu selama periode usia 6 – 12 tahun, tingkat depresi untuk laki-laki dan perempuan relatif sama (Nolen-Hoeksema, dalam Gladstone & Koening,2002). Namun selama periode remaja awal dan tengah, untuk perempuan meningkat tajam sehingga jumlah penderita depresi perempuan dua kali lipat dibanding remaja laki-laki.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa masa remaja memungkinkan terjadinya depresi. Banyak kasus bunuh diri yang dilakukan oleh remaja yang depresi. Remaja mudah mengalami depresi karena kemampuan kognitif serta emosional mereka yang belum berkembang sempurna. Para remaja lebih mementingkan hubungan interpersonal dan mementingkan bagaimana mereka dilihat orang lain. Jika kebutuhan ini bermasalah, maka remaja yang secara emosional & kognitif masih labil, akan mudah terkena depresi.

Cara menanggulangi depresi berbeda-beda sesuai dengan keadaan pasien, namun biasanya merupakan gabungan dari farmakoterapi dan psikoterapi atau konseling. Dukungan dari orang-orang terdekat serta dukungan spiritual juga sangat membantu dalam penyembuhan.






Hubungan antara Kesehatan Mental dengan Kecerdasan Emosional



Kesehatan Mental

Manusia yang sehat yaitu manusia yang berpikir rasional, tidak merendahkan dirinya dan perkembangan metalnya berjalan dengan optimal.

Federasi Kesehatan Mental Dunia (World Federation for Mental Health) merumuskan pengertian kesehatan mental sebagai berikut:
  • Kesehatan mental sebagai kondisi yang memungkinkan adanya perkembangan yang optimal baik secara fisik, intelektual dan emosional, sepanjang hal itu sesuai dengan  keadaan orang lain.
  • Sebuah masyarakat yang baik adalah masyarakat yang membolehkan perkembangan ini pada anggota masyarakatnya selain pada saat yang sama menjamin dirinya berkembang dan toleran terhadap masyarakat yang lain.

Setiap individu memiliki konsep dirinya masing-masing. Konsep diri berpengaruh pada kesehatan mental seseorang.
Hariyadi (1997, h.110) mengemukakan bahwa konsep diri yaitu bagaimana individu memandang terhadap dirinya sendiri, baikpada aspek fisik, psikologis, maupun sosialnya dapat mempengaruhi proses penyesuaian diri yang dilakukan oleh seseorang. Konsep Diri akan memberikan pengaruh terhadap proses berpikir, perasaan, keinginan,nilai maupun tujuan hidup seseorang (Clemesdan Bean, 2001, h.2).

Kecerdasan emosional

     Manusia tidak hanya cukup sehat secara mental tetapi ada kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki oleh manusia. Salah satu kecerdasan penting yang harus dimiliki manusia adalah kecerdasan emosional.

Psikolog Peter Salovey dan John Mayer menyebut kecerdasan emosional yaitu suatu kemampuan untuk menyerap, memakai, memahami, dan mengelola emosi. Pada umumnya, menjadi cerdas secara emosional itu berarti menerima bahwa emosi merupakan bagian mendasar dari siapa kita dan bagaimana kita bertahan hidup. Menjadi terampil secara emosional itu dapat menjadikan kita lebih lentur, mudah menyesuaikan diri, dan dewasa secara emosional.

Kunci sukses dalam persaingan ditentukan oleh 3 kemampuan utama seseorang, yaitu:
  • Kekuatan (power): mengelola yang sudah ada dalam diri, yaitu menjaga stamina dan kesehatan mental yang unggul.
  • Kecepatan (speed): Memperbarui diri dengan pemikiran kreatif dan inovatif
  • Kegigihan (durability): meningkatkan kecerdasan emosional dan ketabahan menghadapi tantangan hidup dengan strategi jitu.

Hubungan antara Kesehatan Mental dengan Kecerdasan Emosional

Jika seseorang memiliki kecerdasan emosional yang baik, sudah pasti Ia sehat secara mental karena Kecerdasan emosi merupakan kapasitas manusiawi yang dimiliki oleh seseorang dan sangat  berguna untuk menghadapi, memperkuat diri, atau mengubah kondisi kehidupan yang tidak menyenangkan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi.
  

Orang yang sehat mental dan memiliki kecerdasan emosi tinngi akan selalu berpikir secara rasional, tidak mudah menyerah dan selalu berjuang di dalam menjalani kehidupannya.

Orang-orang yang unggul dalam kehidupan cenderung cerdas secara emosional dan sehat secara mental. Kecerdasan emosional menentukan pemenuhan, produktifitas, perilaku terhadap pekerjaan dan hubungan yang dibangun.
Jadi kesehatan mental dan kecerdasan emosional sangat berhubungan erat dalam kepribadian dan perilaku manusia. Dan keduanya sangat penting serta berguna di dalam kehidupan manusia.



Daftar Pustaka:

http://id.wikipedia.org/wiki/Depresi_(psikologi)

jurnal.psikologi.ugm.ac.id/index.php/fpsi/article/view/98/88

Pangkalan ide.  (2010) Strategic Thingking To Fight Frustration. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Carmazzi. F. Arthur. (2006) Kecerdasan Identitas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

Feist, G. J., & Feist, J. (2010). Theories of personality 7th ed. Jakarta: Salemba Humanika

Senin, 30 Maret 2015

KESEHATAN MENTAL

Kesehatan Mental merupakan suatu hal yang sangat penting yang terdapat dalam diri manusia. Kesehatan mental dan kesehatan fisik pada manusia harus seimbang.

Menurut WHO, Kesehatan Mental didefinisikan sebagai keadaan dimana individu merasa sejahtera. 

Kesehatan mental yang baik ditandai dengan:
-Kemampuan individu mengetahui potensinya dan memaksimalkan potensi tersebut.
-Kemampuan individu mengatasi situasi menekan yang dihadapinya.
-Kemampuan individu untuk bekerja secara produktif dan bermanfaat di  tempat kerja, keluarga, komunitas, dan di antara teman.




Menurut Pieper dan Uden (2006); Kesehatan mental adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.

Jadi manusia tidak hanya memerlukan kesehatan secara fisik namun juga sehat secara mental. Karena kesehatan mental akan berpengaruh pada aktivitas sosialnya sehari-hari.



Sejarah Kesehatan Mental


 Menurut Alexander Schneider, Ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang mengembangkan dan menerapkan seperangkat prinsip yang praktis dan bertujuan untuk mencapai dan memelihara kesejahteraan psikologis organisme manusia dan mencegah gangguan mental serta ketidakmampuan menyesuaikan diri.

Kesehatan Mental tentu berkembang dari masa ke masa:

Pada tahun 1950, organisasi mental hygiene terus bertambah, yaitu dengan berdirinya NationalAssociation for Mental Health. Gerakan mental hygiene ini terus berkembang sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World Federation for Mental Health dan The World Health Organization.

Dalam perkembangan selajutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi dikalangan orang-orang kristen. Seorang dokter perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filasafat politik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniac) dirantai, diikat ditembok dan ditempat tidur. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak menunjukkan lagi kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.

Dan pada Masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa. Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila dan memperbaiki banyak rumah sakit jiwa di Amerika dan Eropa.

Kesehatan mental yang kita miliki tidak selalu sama. Dapat berubah karena adanya perubahan lingkungan serta kita yang terus bergerak melewati tahapan kehidupan yang berbeda.



Konsep Sehat

Memahami konsep kesehatan tidak pernah dapat dilepaskan dari pengaruh sejarah dan kemajuan kebudayaan. Sepanjang sejarah makna sehat dan sakitarnya ternyata dipengaruhi oleh peradaban.


Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa(neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).


Berbagai kalangan psikiatri (kedokteran jiwa) menyambut baik definisi ini. Seseorang dikatakan bermental sehat bila terhindar dari gangguan atau penyakit jiwa, yaitu adanya perasaan cemas tanpa diketahui sebabnya, malas, hilangnya kegairahan bekerja pada diri seseorang dan bila gejala ini meningkat akan menyebabkan penyakit anxiety, neurasthenia dan  hysteria. Adapun orang yang sakit jiwa biasanya akan memiliki pandangan berbeda dengan orang lain inilah yang dikenal dengan orang gila.


Faktor-faktor yang berkaitan dengan kesehatan mental
  • v Faktor-faktor Demografis dan Klasifikasi Sosial
  • v Dukungan Sosial
  • v Daur Hidup Keluarga
  • v Evaluasi terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu
  • v Ideologi Peran Jenis Kelamin


Jadi, dapat dikatakan bahwa konsep kesehatan mental yaitu terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawanya pada kebahagiaan bersama, serta tercapainya keharmonisan jiwa dalam hidup.


Perbedaan Konsep Kesehatan Mental Barat & Timur


Dalam kesehatan mental, faktor kebudayaan memiliki peranan yang penting. Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh (Wallace, 1963) meliputi:
  • Kebudayaan yang mendukung dan menghambat kesehatan mental.
  • Upaya peningkatan dan pencegahan gangguan mental dalam telaah budaya.
  • Kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental.
  • Berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural.

Budaya Barat dan Timur ternyata memiliki perbedaan yang mendasar mengenai konsep sehat-sakit. Perbedaan ini kemudian memengaruhi sistem pengobatan di kedua kebudayaan. Akibatnya, pandangan mengenai kesehatan mental juga berbeda. Namun dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang membuat relasi antar manusia semakin mengglobal, pertemuan antara kedua budaya ini tidak lagi dapat dihindari sehingga sekarang ini ditemui berbagai cara penanganan kesehatan yang mencoba mengintegrasikan sistem pengobatan antara kedua kebudayaan. Selain itu budaya juga mempengaruhi tindakan penanganan yang dilakukan terhadap gangguan mental itu sendiri.
Perbedaan konsep kesehatan mental budaya barat dan timur yaitu Barat lebih memandang kesehatan bersifat dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin yang sangat dipengaruhi oleh dominasi medis. Sedangkan Timur lebih bersifat holistik, yaitu melihat sehat lebih secara menyeluruh saling berkaitan sehingga berpengaruh pada cara penanganan terhadap penyakit.



 kesehatan mental bertujuan untuk mewujudkan kehidupan yang baik, sejahtera, dan bahagia bagi manusia secara lahir dan batin baik jasmani maupun rohani. Karena itulah kesehatan mental yang baik sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia.


Daftar Pustaka

Semiun, Yustisnus. (2006). Kesehatan mental 1. Yogyakarta:  Kanisius.

http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2009/Artikel_10502223.pdf

Sutardjo A. Wiramihardja. (2010). Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung : Refika Aditama

Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan Mental. Yogyakarta  : Fajar Media Press

Sabtu, 01 November 2014

#PinterNet PSYCHOTHERAPHY VIA INTERNET





Meningkatnya penggunaan internet di rumah, kerjatempat, sekolah, dan pemerintah dalam beberapa dekade terakhir memiliki Kesempatan dan tantangan untuk memberikan layanan psikoterapi.

 Sejalan dengan perkembangan teknologi komputer, interaksi antara konselor dengan klien  tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet dalam bentuk “cyber counseling”. Layanan bimbingan dan konseling ini merupakan salah satu model pelayanan konseling yang inovatif dalam upaya menunjukkan pelayanan yang praktis dan bisa dilakukan dimana saja asalkan ada koneksi atau terhubung dengan internet.

Berbagai pendekatan psikoterapi pada online digumakan , termasuk dinamis (misalnya, Suler, 2001), narasitive (Haberstroh, Trepal, & Parr, 2005), kognitif dan kognitif-perilaku (misalnya, Andersson & Carlbring,2003), behaviouristic (misalnya, Glenn & Dallery, 2007), dan berpusat pada klien (Haberstroh et al., 2008). Masing-masing mengeksploitasi tekstual online, virtual, dan  jarak komunikasi dalam bentuk yang dimodifikasi yang terbaik untuk melayani tujuan (Barak, 2004).

Dalam dua dekade terakhir, telah terjadi pertumbuhan yang sangat besar di call center dan industri TI komputer. Dan sebagai hasilnya, layanan yang diberikan oleh psikolog, psikiater,pekerja sosial dan konselor sekarang ditawarkan dalam lingkungan. Istilah umum digunakan adalah Telehealth atau e-health. Telehealth dan Telepsychology adalah modus layanan psikologis yang disediakan dalam internet. Telehealth dapat dipandang sebagai layanan yang terpisah atau alternatif untuk sistem pelayanan kesehatan utama. Telehealth atau e - kesehatan istilah yang digunakan untuk menggambarkan pelayanan kesehatan terkait apapun yang disediakan jarak jauh melalui teknologi yang dibantu media seperti telepon, komputer, atau Internet. Telepsychology merupakan salah satu bentuk Layanan telehealth yang berhubungan dengan layanan psikologis terpencil. Istilah lain juga sering digunakan adalah e-psikologi, e-konseling, web-konseling, konseling telepon atau konseling online. Hill (1997) mendefinisikan Telehealth sebagai layanan yang melibatkan pengiriman kesehatan yang terkait (misalnya, pelayanan kesehatan, pendidikan atau informasi) lebih dari jarak jauh, dengan menggunakankomputer dan telekomunikasi.Williams (2000) menjelaskan Telepsychology sebagai profesi kesehatan(Psikolog) berinteraksi dengan klien mereka menggunakan real time komunikasi interaktifMedia. Termasuk dalam definisi ini adalah telepon (audio hanya interaksi), Internet chatkamar, video dan transmisi audio melalui Internet, atau televisi sirkuit tertutup. Lainjenis teknologi dibantu media seperti e-mail atau faks tidak benar-benar interaktif ataureal-time, sehingga dapat agak membatasi kelancaran dan kedekatan proses komunikasidan tidak benar-benar dapat didefinisikan sebagai layanan Telepsychology. (Williams, 2000).

Bentuk-bentuk Layanan Konseling Melalui Internet

Secara spesifik, Marthin (2007) membagi dua jenis layanan dalam konseling melalui internet, Yaitu :

1.      Non Interaktif berupa situs yang berisi informasi dan narasumber self help atau pertolongan mandiri;.
merupakan suatu bentuk layanan informasi atau jika kita kaitkan dengan bimbingankomprehensif merupakan salah satu bentuk layanan dasar (yang mendukung individusebagai sebuah nara sumber yang berisi informasi bagi pengayaan diri dan bersifat self help bagi pribadi yang membutuhkan (Sampson et.al: 2004).

2.       Interaktif atau secara langsung seperti chat atau instant messaging, dan video conference, maupuninteraktif yang secara tidak langsung berupa terapi email atauemail therapy .
konseling yang berjenis interaktif adalah situs yang menawarkan alternatif  bentuk terapi melalui internet, dimana terdapat interksi antara klien dan konselor baik secara langsung ataupun tidak langsung
Terdapat dua bentuk layanan dalam metode konseling ini, yaitu terapi email dan Bulletin Boards Counseling (BBC).

·         Terapi email merupakan suatu proses menulistentang permasalahan yang dialami dan dirasakan oleh konseli yang bisa dijadikansebagai bentuk terapetik bagi dirinya sendiri. Metode hubungan terapetik melaluiemail konseling, tidak mengenal waktu, artinya bisa dilakukan kapanpun, tidak mengenal tempat secara fisik, konseli tidak perlu mendatangi konselor, tetapi cukup berhubungan melalui internet. Bagi konselor sendiri, memiliki rekaman konseling yang cukup terperinci, karena semua tersimpan dalam bentuk data tertulis (HongkongYoung Woman Christian Assocation). Dalam email konseling, klien mengirimkan pesan melalui email kepada konselor mengenai permasalahan yang dihadapinya, kemudian konselor memberikanrespon balik secara profesional melaui email. Konseling melalui email, memberikan pelayanan konseling yang lebih pribadi dalam hubungan satu sama lain antarakonselor dengan klien. Menurut Elleven dan Allen (2003), model komunikasi dalam bentuk ini lebih efisien, karena hampir seluruh konseli yang mencari bantuan layanan konseling melalui internet memilikinya.

·         BBC adalah suatu sistem dimana Klien mempublikasikan pertanyaanya di bulletin board , untuk selanjutkan konselor akan memberikan jawaban ataumasukannya terhadap permasalahan konseli tersebut,bulletin board merupakan suaturuang dimana seseorang dapat meninggalkan pesan dengan tetap merahasiakanidentitasnya, dengan harapan akan memperoleh jawaban atau respon dari ruang publik yang ramah (Maples & Sumi: 2008).


Manfaat Psychotheraphy Via Internet



  • v Kenyamanan dan Peningkatan Akses


Salah satu yang paling sering dikutip manfaat terapi online adalah kenyamanan dan peningkatan Akses untuk kedua klien dan terapis. Terapi online juga memiliki potensi untuk melayani orang-orang dengan mobilitas terbatas, batasan waktu, dan akses yang terbatas pada ser kesehatan mental keburukan. Selain orang-orang yang tinggal di daerah terpencil atau daerah yang tidak memiliki akses ke tempat terapis, ada juga orang yang bekerja, bepergian, dan relokasi di negara-negara di mana mereka tidak akan berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental karena hambatan bahasa.
Selain itu, calon konsumen yang merasa ternoda oleh proses konseling mungkin lebih cenderung untuk mencari bantuan secara online jika mereka merasa malu, maka rasa malu akan berkurang ketika mereka tidak melihat kehadiran fisik terapis (Mitchell &Murphy, 1998).

  • v Rasa malu dan Internalisasi


Dalam konteks terapi online, rasa malu dapat mendorong terapi ekspresi dan refleksi diri (Suler, 2002b). Beberapa terapis secara online melaporkan anecdotally yang berhubunga tentang pengungkapan diri yang dapat memiliki efek merangsang tingkat tinggi keintiman dan kejujuran dari pertukaran pertama di e-mail Klien selalu dapat kembali membaca, berlatih, dan memperkuat solusi dan resolusi yang terkandung dalam korespondensi yang mereka lihat di web conseling.

  • v Zona Refleksi


Komunikasi terapi online dapat memiliki keuntungan potensial dari peningkatan diri refleksi dan kepemilikan dari proses terapi yang diperoleh melalui tindakan menulis. Setelah kontak yang sedang berlangsung antara klien dan terapis telah didirikan, ada kesempatan bagi kedua belah pihak untuk memasukkan apa yang disebut "zona refleksi." Untuk Misalnya, dalam pertukaran e-mail, proses normal terapi dimediasi oleh teks, yang memungkinkan kedua penulis untuk memperhatikan proses mereka sendiri yang sementara masih terlibat dalam dialog. 

  • v Menulis adalah Terapi


Proses kontemplatif menulis tentang masalah seseorang atau konflik mungkin dari dalam diri sendiri menjadi terapi untuk beberapa klien (Murphy & Mitchell, 1998). Bahkan, Pennebaker (1997) memberikan bukti empiris bahwa menulis tentang pengalaman emosional umumnya bermanfaat. Penelitian ini dapat secara logis diperpanjang untuk keuntungan kemungkinan terapi secara online praktek.  klien terapi online dapat duduk diam selama satu jam dan kemudian mengatakan lebih dalam satu baris dengan mengetik apa yang belum pernah diungkapkan kepada siapa pun. "


  • v Hypertextuality dan Multimedia


Keuntungan lain dari terapi online adalah kemampuan untuk menggunakan kekuatan internet untuk memberi bahan tambahan yang relevan dengan klien dengan cepat dan mudah. Link ke informasi Web situs, klip video, dokumen, dan alat-alat penilaian yang mudah disediakan semua secara online oleh modalitas terapi. Sedangkan terapi tradisional berlangsung di kantor terapis. terapi secara online selalu dapat terjadi dalam konteks dengan sumber daya tak terbatas.


Refrensi:
Jerry dan Barak, Azy (2010). Sebuah studi deskriptif e-konselor sikap, etika, dan praktek. Konseling Pebelitian dan Psikoterapi. 10 (4), 268-277.

Campos, B. (2009). Telepsychology & Telehealth: Konseling Dilakukan dalam Teknologi suatuLingkungan. Konseling, Psikoterapi, dan Kesehatan. Penggunaan Teknologi di Kesehatan Mental. 5 (1), 26-59.

Nabilah. (2011) Pengembangan Media Layanan Konseling Melalui Internetdi Perguruan Tinggi.


Zack, J.S. (2004). Technology of Online Counseling.  Online Counseling: a Handbook for Mental Health Professional. 93-121

#Pinternet INTERNET ADDICTION



Internet adalah sebuah alat baru yang berkembang menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari seluruh Situs (Nalwa & Anand, 2003) dan penggunaan meningkat yang terutama di kalangan anak muda. Terlepas dari manfaat luas dari alat ini, psikolog dan pendidik telahmenya dari dampak negatif dari penggunaannya, terutama selama atau penyalahgunaan dan terkaitmasalah fisik dan psikologis (Greenfield, 2000). Salah satu yang paling umum dari masalah adalah kecanduan internet (Murali & George, 2007;. Shapira, Lessig, Goldsmith et al,2003; Young, 1998). Masalah ini adalah fenomena peningkatan mempengaruhi orang dengan berbagai frekuensi di seluruh dunia dan telah menghasilkan dampak negatif pada akademik,hubungan, keuangan, dan pekerjaan aspek banyak nyawa (Chou & Hsiao, 2000;Griffiths, 2000; Young, 1998). Kecanduan internet biasanya ditandai dengan psikomotoragitasi, kecemasan, keinginan (Ferraro, Caci, D'Amico et al., 2007), depresi, permusuhan,Pengalaman substansi (Ko, Yen, Chen et al, 2006;. Yen, Ko, Yen et al, 2007), keasyikan,kehilangan kontrol, penarikan, gangguan fungsi, mengurangi kemampuan pengambilan keputusan (Internasional Online Journal of Ilmu Pendidikan, 2011, 3 (1), 138-148 139 Yen, Chen et al., 2005), dan berselancar secara online konstan meskipun efek negatif pada sosial dan kesejahteraan psikologis.

Penggunaan internet dapat menggantikan waktu yang berharga bahwa orang-orang menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman-teman, yangmengarah ke lingkaran sosial yang lebih kecil dan tingkat yang lebih tinggi dari kesepian dan stres (Nie et al., 2002). Kesimpulan lain dari penggunaan yang berlebihan telah di dokumentasikan sebagai pengabaian akademik, pekerjaan,dan tanggung jawab domestik, gangguan hubungan, isolasi sosial, dan keuanganmasalah (Griffiths, 2000; McKenna & Bargh, 2000). Kecanduan internet juga dapat menyebabkan kecemasan dan stres (Egger & Rauterberg, 1996;Yu, 2001). Mereka yang menderita kecemasan dan stres sering memiliki banyak masalah berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang sehat, positif, dan bermakna.
Jenis kecanduan sebenarnya sangat umum. Kecanduan internet, seperti yang lain kecanduan, memiliki tanda-tanda dan gejala.

Tanda-tanda orang kecanduan:


1.      Mereka mengganti waktu tidur dengan menghabiskan lebih banyak waktu untuk on-line.
2.      Mengabaikan kegiatan penting lainnya seperti pekerjaan, keluarga dan teman-teman, atau bersosialisasi di umum untuk berselancar di Internet.





Kecanduan internet telah secara resmi diakui sebagai gangguan oleh Amerika Psychological Association. Menurut Dr Kimberly S. Young, asisten Guru Besar Psikologi, University of Pittsburgh di Bradford, orang  yang kecanduan adalah mereka yang kesepian, bosan, depresi, introvert, atau memiliki riwayat kecanduan. Studi menunjukkan bahwa terlalu sering menggunakan Internet dapat benar-benar menahan pengalaman remaja dalam kehidupan, kinerja mereka secara akademis, mempengaruhi kebahagiaan dan fisiologis kesejahteraan.

Jo Bryce (dalamTridhonanto, 2011) telah membuktikan bahwa para pemain game memiliki daya konsentrasi tinggi, menjadikan kecepatan mengetik seorang pemain semakin meningkat, mengendurkan ketegangan urat saraf apabila game digunakan sebagai tempat pelarian akan kepenatan.

Kecanduan Internet juga dapat terjadi pada perilaku interaksi di dunia maya. Orang-orang yang kecanduan dalam membuka situs-situs sosial seperti twitter, path, facebook, instagram, askFm, dll, cenderung akan membuka situs-situs tersebut seharian hanya untuk membalas atau mengetahui info-info terbaru dari jejaring sosial tersebut. Kecanduan ini tentu menganggu aktivitas yang seharusnya dapat dilakukan optimal dalam dunia nyata.

Fenomena kecanduan internet:

Aktivitas bermain game online yang dilakukan secara berlebihan  dapat membawa pengaruh negatif pada anak.


Dalam jurnal penelitian mengenai Adiksi Bermain Game Online pada anak usia sekolah di Jatinangor, diketahui bahwa dari 71 responden terdapat 62% yang adiksi bermain game online dan sebanyak 38% responden tidak mengalami adiksi bermain game online. Maka gambaran penelitian ini sebagian besar dari responden anak usia sekolah mengalami adiksi bermain game online di warung internet penyedia game online Jatinangor Sumedang. Bermain game cenderung membuatpikiran seorang pemain game untuk menjadikan aktivitas ini menjadi yang paling penting dalam hidupnya dan mendominasi pikiran, perasaan, dan perilakunyatermasuk pada anak usia sekolah.

          Jenis-Jenis Adiksi Internet

  Berikut ini adalah sub-sub tipe dari internet addiction menurut Kimberly S. Young,    et. al.    (2006):

·         Cybersexual Addiction
individu yang secara kompulsif mengunjungi website-website khusus orang dewasa, melihat hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas yang tersaji secara eksplisit, dan terlibat dalam pengunduhan dan distribusi gambar-gambar dan file-file khusus orang dewasa.

·         Cyber-Relationship Addiction
Cyber-relationship addiction mengacu pada individu yang senang mencari teman atau relasi secara online. Individu tersebut menjadi kecanduan untuk ikut dalam layanan chat room dan seringkali menjadi terlalu-terlibat dalam hubungan pertemanan online atau terikat dalam perselingkuhan virtual.

·         Net compulsions
Yang termasuk dalam sub tipe net compulsions misalnya perjudian online, belanja online, dan perdagangan online.

·         Information Overload
Information overload mengacu pada web surfing yang bersifat kompulsif.

·         Computer Addiction
Salah satu bentuk dari computer addiction adalah bermain game komputer yang bersifat obsesif.


Penanganan Adiksi Internet


Kegiatan dalam rangka pencegahan adiksi internet yang semakin meluas ini harus menyediakan dasar informasi yang kuat tentang adiksi, diskusi tentang tanda-tanda peringatan yang akan terjadi, penilaian sederhana tentang gejala adiksi internet termasuk game online, dan sumber daya baik dari lokal danberbasis web yang dapat dipertanggungjawabkan (Heino, et al., 2004 dalamCaldwell & Cunningham, 2010). Penanganan adiksi internet yang dapat dilakukan menurut Young (1999) adalah pemain menjaga sesi bermain singkat tetapi sering dan menerapkan jadwal yang nyata dalam bermain internet termasuk game seperti ini akan memberikanperasaan pemain berada dalam kontrol. Selain itu, pemain juga dapat melakukanaktivitas lain selain bermain game online. Dukungan kehidupan sosial pemain dikehidupan nyata juga sangat berpengaruh untuk penanganan adiksi internet.




Refrensi:

Kberlimy S. (1996). Internet Addiction. The Emargence of a New Clinical Disorde. 1 (3), 237-244.

Ferraro, G., Caci, B., & D'Amico, A., et al. (2007) gangguan kecanduan Internet. CyberPsychology & Behavior, 10, 170-175.
           
Sanditaria, W. (2011) Adiksi Bermain Game Online Pada Anak Usia Sekolah di Warung Internet Penyedia Game Online Jatinangor Sumedang.

            Caplan, SE. (2003). Preferensi untuk interaksi sosial online: Sebuah teori bermasalah
Penggunaan internet dan psikososial kesejahteraan. Penelitian Komunikasi, 30, 625-648.