Rabu, 09 Oktober 2013

KONSEP ILMU BUDAYA DASAR DALAM KESUSASTRAAN

Kesusastraan dapat diartikan sebagai sebuah karya yang memiliki arti dan keindahan sendiri. Menurut asal-usul kata kesusastraan berarti karangan yang indah. Kesusastraan biasanya dihubungkan dengan Sastra dan Seni. Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
Satra erat kaitannya dengan Budaya. Karena Sastra juga merupakan hasil dari budaya. Di setiap jaman, Sastra memegang peran penting dalam budaya. Karena sastra menpergunakan bahasa, dan bahasa mempermudahkan komunikasi. Menurut bahasa yang digunakan dalam menciptakan sastra, kesusastraan dibedakan menjadi 2 yaitu :
1.      Sastra Lisan (Oral) adalah karangan yang diwujudkan dalam bahasa lisan, sastra lisan berkembang dari mulut kemulut. Dari satu generasi ke generasi berikutnya
2.      Sastra Tertulis adalah karangan yang diwujudkan dalam bahasa tulisan. Kesusastraan tertulis dibagi menjadi 2, yakni :
·         Kesusastraan Umum adalah karangan dalam bahasa tulisan yang tidak megandung segi-segi keindahan. Kesusastraan umum meliputi : Buku Ilmu pengetahuan, Selebaran, Buku Udang-Undang, dsb.
·         Kesusastraan Khusus adalah karangan yag mengutamakan segi keindahan bahsanya disamping kebaikan isinya.
Sastra dalam arti khusus yang kita gunakan dalam konteks kebudayaan, adalah ekspresi gagasan dan perasaan manusia. Jadi, pengertian Sastra sebagai hasil budaya dapat diartikan sebagai bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang lahir dari perasaan dan pemikirannya.


Imu Budaya Dasar sangat berkaitan dengan Budaya di dalam keseharian masyarakat. Konsep ilmu budaya dasar dalam kesusastraan sangat memegang peranan penting karena Seni adalah cerminan dari nilai-nilai budaya yang terkandung didalam masyarakat. Karena pada dasarnya seni merupakan penjabaran abstraksi. Hubungan sastra dan seni dengan ilmu budaya dasar adalah sama-sama memiliki objek yang sama yaitu manusia. sama-sama mempelajari hubungan antar manusia melalui suatu komunikasi yang beraneka ragam macamnya.  
Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanities) berasal dari bahasa latin yang di sebut dengan “humanus”, yang memiliki arti manusiawi, berbudaya, dan halus. Pada umumnya, humanities mencakup filsafat, teologi, seni, dan cabang-cabangnya (sejarah, sastra, dll), maka dari itu humanities menjadi ilmu kemanusiaan dan kebudayaan.
Masalah sastra dan seni sangat erat hubungannya dengan ilmu budaya dasar, karena materi-materi yang diulas oleh ilmu budaya dasar ada yang berkaitan dengan sastra dan seni.



Ilmu Budaya Dasar Yang Di Hubungkan Dengan Puisi
Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan hasil curahan isi hati,pemikiran atau penghayatan penyair yang dapat membawa orang lain ke dalam keadaan hati sang penyair. Dalam puisi akan dijumpai dua proses yang disebut Proses konsentrasi dan proses intensifikasi. Proses konsentrasi yakni proses pemusatan terhadap suatu focus suasana dan masalah, sedang  Proses intensifikasi adalah proses  pendalaman terhadap suasana dan masalah tersebut. Unsur-unsur struktur puisi berusaha membantu tercapainya kedua proses itu. Inilah hakekat puisi, yang kurang terlihat dalam proses bentuk sastra lainnya. Puisi dipakai sebagai media sekaligus sebagai sumber belajar sesuai dengan pokok pembahasan yang terdapat di dalam Ilmu Budaya Dasar.

*contoh puisi:
Karawang-Bekasi
Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “merdeka” dan angkat senjata lagi,
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
Terbayang kami maju dan berdegak hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa
Memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai-nilai tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang dan Bekasi



*Pembahasan Puisi :
Puisi yang berjudul Karawang-Bekasi karangan Chairi Anwar berisi tentang perjuangan Pahlawan yang telah gugur.  Chairil Anwar menulis tentang kejadian yang ia lihat sendiri. Dia melihat berbagai kejadian sepanjang sungai Bekasi dan sepanjang jalan antara Karawang-Bekasi, di mana ribuan anak-anak muda tewas silih berganti. Chairil selalu terbayang dengan laskar-laskar pemuda yang melayang terpelanting jatuh, di lumpur-lumpur, di rawa-rawa, di atas jembatan dan di benteng-benteng sepanjang sungai, dan kemudian mati. Puisi ini bercerita mengenai kesedihan serta harapan  para pahlawan yang gugur. Puisi Karawang-Bekasi ini cukup mewakili keadaan yang terjadi pada masa itu, di saat serdadu Belanda berusaha untuk menguasai Negara Indonesia kembali setelah kemerdekaan diperoleh dari tangan Jepang. Di saat perang terjadi di mana-mana, di Surabaya, Bandung, Semarang, dan lain-lain. Puisi tersebut berfungsi untuk mengenang jasa para pahlawan kita dan memberi pesan kepada kita agar kita meneruskan perjuangan para pahlawan yang telah gugur untuk terus membuat Bangsa Indonesia  lebih baik.
Tentunya, puisi karangan Chairil Anwar ini merupakan Puisi yang sangat mendidik dan mempunyai pesan moral yang baik karena mempunyai isi yang sangat berarti. Puisi ini dapat menggugah bagi siapa saja yang membacanya. Karena kita dapat mengingat kembali perjuangan para Pahlawan dan tentunya Puisi ini memberikan motivasi untuk meneruskan perjuangan para Pahlawan utuk membuat Indonesia lebih baik.
Jadi, Suatu karya Sastra harus dilihat secara keseluruhan, mulai dari tema, amanat, struktur dan nilai-nilai yang terkandung di dalam  karya sastra itu. Dapat disimpulkan bahwa “kesusastraan” merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia melalui bahasa sebagai medium dan punya efek yang positif terhadap kehidupan kemanusiaan. Karena itulah, Ilmu Budaya dasar mengajarkan pembelajaran mengenai konsep-konsep kehidupan dan budaya manusia.
Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar